Sejarah

Haji Ishak – NAMANYA identik dengan kambing guling. Kalau orang mengadakan hajatan, seringkali memesan masakan kambing guling darinya. Kambing guling Haji Ishak, bukan hanya dipesan langsung oleh konsumen yang mengadakan pesta, namun tak sedikit pula perusahaan katering yang memesan khusus kambing guling dari H Ishak. “Memang kambing guling yang membawa nama saya dikenal sama orang Jakarta,” ujar H Ishak ( 76). Padahal pria asal Majalengka, Jawa Barat, ini sebenarnya telah memiliki usaha katering sejak pertengahan tahun 1960-an.

Ishak sudah biasa menyediakan masakan Eropa maupun Amerika untuk pesta-pesta, namun namanya justru “terangkat” setelah ia membuat kambing guling. “Dulu orang hanya mengenal babi guling. Kan nggak semua orang bisa makan babi. Saya pikir-pikir, kenapa tidak membuat kambing gu-ling,” tutur ayah 18 anak, kakek 50 cucu dan buyut 13 cicit itu, mengenang ke masa sekitar tahun 1968-an.

Ia lalu membuat desain alat pembakaran dan minta seorang tukang las membuatkannya. Awalnya, Ishak membumbui kambing gulingnya dengan bumbu Eropa yang dominan lada dan garamnya. “Ternyata tak hanya orang Eropa dan Amerika saja yang suka, orang Arab Saudi juga senang,” kenangnya. Sekitar awal tahun 1970 barulah orang Indonesia mengenali kambing gulingnya. “Saya sesuaikan bumbunya dengan lidah kita, jadi ditambah bawang putih dan ketumbar,” tuturnya.

Kini, orang tak hanya bisa menikmati kambing guling Haji Ishak yang telah dipatenkan itu – tapi ia juga bisa menyediakan sapi guling, kalkun guling dan juga ayam guling. Kambing gulingnya bahkan juga dipesan sampai ke Bandung, Riau, Balikpapan dan kota-kota lain di Indonesia. “Saya tak pernah pasang iklan. Semua ini dari mulut ke mulut saja,” tegasnya.

“Sebenarnya tak ada rahasia memasaknya. Semua bumbu yang saya pakai sama saja dengan orang biasa membakar daging. Mungkin bedanya, sampai sekarang saya tetap bertahan menggunakan arang sebagai bahan bakarnya,” tambah Ishak. Ia pernah mencoba menggunakan oven maupun gas, namun tak dilanjutkannya karena mengubah kekhasan rasa daging. Sebelum dibakar, daging hewan itu “direndamnya” dengan bumbu minimal selama dua jam.

Berawal dari Des Indes

Tahun 1935 pria itu pindah ke Jakarta. Ia bekerja di Hotel Des Indes, Jl Gajah Mada, sebagai pelayan. Berkat keinginannya untuk terus belajar, Ishak lalu menjadi supervisor dan terakhir menjadi orang yang “menguasai” dining room hotel tersebut. “Saya kerja di Des Indes sampai 25 tahun. Jadi banyak juga tamu yang kenal saya. Tamu-tamu Hotel Des Indes kebanyakan orang asing,” ucapnya.

Karena itulah, ketika hotel itu mulai akan ditutup, Ishak berani mengundurkan diri dan merintis usaha kateringnya. “Saya banyak belajar selama bekerja di hotel itu. Bukan hanya belajar memasak berbagai menu masakan, tapi juga bagaimana menghias ruangan, menata makanan dan melayani tamu,” kata pria yang mengaku koleksi buku masaknya lengkap, namun memilih mencicipi langsung masakannya lalu mencoba membuatnya sendiri daripada harus membaca buku masak.

Ia menamakan jasa katering yang dirintisnya tahun 1964 itu Penyelenggara Jamuan Pesta Pak Ishak. Kenalan orang asing di hotel, membantu Ishak mendapatkan langganan dari kalangan kedutaan-kedutaan negara sahabat di Jakarta. “Waktu itu Hotel Indonesia belum beroperasi, dan belum musim katering di Jakarta ini. Awalnya langganan saya lebih banyak orang asing daripada orang Indonesia,” ceritanya. Dulu, ia hanya memperoleh 3 – 4 pesanan dalam sebulan, kini rata-rata setiap bulan Ishak menerima 8 – 10 pesanan.

Pada pesta di rumah orang asing itulah, Ishak kadang melihat ada babi guling. Ketika ia mencoba membuat kambing guling, tetangganya mengira itu babi guling dan menolak memakan masakannya. “Besoknya saya pergi ke pasar, saya beli kambing hidup dan kasih tahu tetangga. Jadi mereka tahu ini benar-benar kambing, bukan babi,” kata Ishak, yang kini tujuh anaknya membuka cabang pelayanan katering.

Tahun 1970-an, ketika hotel berbintang sudah ada dan juga menyediakan jasa katering, usaha Ishak tersaingi. Untuk meningkatkan pelayanan, Ishak tak hanya menyediakan masakan Eropa saja, tapi juga masakan Indonesia. “Nama usahanya saya ganti Catering Service Pak Ishak, dan sudah melayani orang Indonesia juga,” kata Ishak.

Dilakukan sendiri

Ketika memulai usaha kateringnya, Ishak turun tangan mulai dari belanja, memasak sampai menghidangkannya di tempat pesta. Namun, setelah Hotel Des Indes ditutup, ia mengajak beberapa rekannya sesama karyawan hotel
bergabung membantu usaha kateringnya. Kini, dengan semakin membesarnya usaha katering – sekarang namanya Kambing Guling dan Catering Service H. Ishak – ia juga dibantu anak-anaknya, keponakannya dan kerabat lainnya.

Karyawan tetapnya 40 orang, di samping ada pula tenaga pelayan yang membantunya bila banyak pesanan sebanyak 60 orang. Untuk karyawan tetapnya ia memberi uang bulanan sebesar Rp 150.000 – Rp 300.000 sebulan, selain “uang rokok” Rp 15.000 – Rp 25.000 setiap ada pesanan. “Kendaraan operasional saya ada enam. Kalau lagi ramai pesanan, tentu tak cukup. Saya lebih suka menyewa kendaraan pada orang lain daripada membeli lagi. Bagi-bagi rezekilah,” ujar Ishak yang setiap minggu minimal memperoleh dua pesanan makanan untuk rata-rata 1.500 orang.

“Sekarang ini saya punya beberapa supervisor yang mengawasi sampai detil. Tapi secara umum, saya sendiri tetap datang ke tempat pesta,” ucapnya. Karena keterbatasan itulah, Ishak menolak bila ada pesanan untuk lebih dari
empat gedung. “Kalau hanya memesan makanan untuk undangan yang tak terlalu banyak, seperti pesta di rumah, atau hanya memesan kambing gulingnya saja, saya bisa melayani. Tapi kalau pesta dengan lebih dari 2.000 tamu, cukup empat gedung semalam,” cetus pria yang melayani pesanan makanan untuk 50 orang sampai 3.000 orang itu, dengan harga mulai Rp 10.000 – Rp 26.000 per porsi.

Banyaknya usaha katering di Jakarta sekarang, tak membuat pesanan yang diterima Ishak menurun. Meski begitu Ishak tak bisa berdiam diri. Ia mencoba eningkatkan pelayanannya, antara lain dengan menambah menu masakan. “Saya juga bisa masakan Jepang, Thailand dan Mongolia. Belajarnya dari makan langsung di restoran-restoran. Mulut saya makan, lidah mencicip dan hati mencatat. Sampai di rumah, saya coba membuatnya sendiri. Alhamdulillah sampai sekarang saya nggak pernah gagal,” kata Ishak.

Memasak bagi Ishak bukan sekadar sumber penghasilan keluarga, namun juga hobi. “Saya ini biar kurus, tapi doyan makan dan masak. Jadi pekerjaan ini untuk saya sungguh nikmat rasanya. Sepanjang tahun orang perlu makan, kalau tak musim pesta perkawinan, ada pesta perusahaan. Bulan puasa juga banyak pesanan untuk buka puasa bersama,” tambah juragan kambing guling yang tiap hari minimal membakar lima ekor kambing itu. (cp)

Pesan Kambing Guling

Silakan kontak kami untuk pemesanan Kambing Guling Haji Ishak.